Halaman
Welcome
Welcome
Selamat datang di Blog OSIS SMP Negeri 1 Mancak. Sarana yang memprakarsai segala kegiatan yang berhubungan dengan kesiswaan dan keorganisasian. Suarakan aspirasi anda untuk kemajuan SMP Negeri 1 Mancak.
Senin, 28 September 2015
Kamis, 22 Desember 2011
Hari Ibu
Tanggal 22 Desember diperingati sebagai
Hari Ibu. Peringatan ini kerap disalahartikan sebagai bentuk terima
kasih kepada ibu yang telah melahirkan dan mengurus rumah tangga.
Namun, ternyata, hari ibu yang diperingati oleh bangsa Indonesia
bukan demikian maksudnya.
Hari Ibu pertama kali dicetuskan pada
tahun 1928. Misi diperingatinya Hari Ibu adalah untuk mengenang
semangat dan perjuangan permpuan dalam upaya perbaikan kualitas
bangsa. Semangat itu tercermin dalam perjuangan Sofie Korneliq
Pandean, seorang perempuan kelahiran Minahasa yang tanpa rasa takut
berseru tentang kemerdekaan bangsa.
Pandean adalah satu-satunya wanita yang
ikut membacakan naskah Sumpah Pemuda. Selanjutnya, Kongres Permpuan
pada 22 Desember yang dihadiri 30 organisasi perempuan dari 12 kota
dari Jawa dan Sumatera membuktikan bahwa semangat perempuan juga
memiliki cita-cita untuk kemerdekaan.
Hingga pertemuan ketiga, Kongres
Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani)
menetapkan hari untuk mengenang keberanian para perempuan yang turut
membela negara. Dipilihlah 22 Desember sebagai Hari Ibu. Tanggal ini
dikukuhkan dalam Kepres No. 316 tahun 1959 tentang Hari Nasional yang
bukan hari libur dan diperingati hingga sekarang.
Sumber :REPUBLIKA.CO.ID
by osis smpn 1 mancak
Sabtu, 10 Desember 2011
Selamat Menempuh Ujian Tengah Semester
Waktu memang berjalan
begitu cepat, baru saja rasanya kemarin kita menikmati hari libur
akhir semester. Kini kita kembali dihadapkan dengan ujian tengah
semester.
Ujian seharusnya bukan menjadi beban kepada kita. Justru
pada masa ini adalah kesempatan kita untuk melakukan evaluasi hasil
BELAJAR kita.
Baik buruk hasil ujian bukanlah menjadi tujuan utama,
yang terpenting adalah bagaimana kita dengan bersungguh-sungguh
menuliskan hasil belajar kita selama mengikuti kegiatan belajar.
Apakah yang terpenting
dalam melaksanakan sebuah ujian? Hasil bagus adalah jawaban yang
tidak terbantahkan. Namun, yang jauh lebih penting dari itu adalah
proses yang bagus. Cara-cara yang jujur.
Mungkin ujian kali ini lah
saatnya kita mulai membenahi diri dari tindakan-tindakan yang tidak
bertanggung jawab kala pelaksanaan ujian. Tidak ada kata terlambat
untuk berubah, namun menunda perubahan bukanlah sesuatu yang bijak.
Selamat menempuh ujian
teman-teman , semoga ujian kita sukses… jangan lupa meminta doa
restu dari Orang Tua….
by osis smpn 1 mancak
Sabtu, 26 November 2011
Kalender Hijriyah
Kalender
Hijriyah
Penentuan dimulainya
sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada
Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal
dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender
Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di
tempat tersebut.
Kalender Hijriyah
dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar
(qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan
siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x
29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun
Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1
tahun Kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik
bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah
bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang
mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon)
di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada
saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan
matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29
hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak
terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya
dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak
tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan
ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari)
Penentuan awal bulan (new
moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit
pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak).
Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari,
sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat
terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut
dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana
saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya
tergantung pada penampakan hilal. (Wikipedia.com)
Mengenal Sejarah Penanggalan
Islam
Hampir seluruh umat Islam
di seluruh dunia mengenal sistem kalender masehi (M). Bahkan, ketika
diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan masehi, mereka dengan mudah
mengucapkannya. Sebaliknya, ketika dimintai pendapatnya tentang
kalender Islam atau hijriyah, kebanyakan mereka akan menggelengkan
kepala, tanda tak tahu.
Sungguh, itu sangat
memprihatinkan sebab mereka tidak mengetahui kalendernya sendiri.
Bahkan, mereka tak tahu bulan apa yang pertama dari kalender
hijriyah. ”Ini disebabkan minimnya sosialisasi keberadaan kalender
hijriyah pada umat Islam,” jelas dosen Fakultas Syariah IAIN
Walisongo, Semarang, Muhammad Izzudin MAg, kepada Republika. Izzuddin
menjelaskan, sistem penanggalan Islam dimulai pada saat Rasulullah
SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan (hijrahnya)
Rasulullah ini, kata dia, menunjukkan adanya tujuan dalam menggapai
kedamaian bagi umat Islam. ”Meninggalkan keburukan menuju
kebaikan,” tegasnya.
Seperti diketahui,
peristiwa hijrah Rasulullah itu terjadi pada hari Kamis, bertepatan
dengan 15 Juli 622 M. Mulai tahun itulah dihitung sebagai tahun
hijriyah. Berbeda dengan tahun masehi yang dimulai pada 1 Januari,
sistem penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dan, dalam setahun,
sama-sama berisi 12 bulan. Kendati penerapan kalender hijriyah
merujuk pada tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah,
penanggalan tersebut resmi digunakan setelah 17 tahun kemudian saat
sistem pemerintahan Islam dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab.
Penetapan awal tahun
hijriyah yang dilakukan Khalifah Umar ini merupakan upaya dalam
merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada
masa pemerintahannya. Kadang, sistem penanggalan yang satu tidak
sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering
menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat. Bila menilik sejarahnya,
sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah menggunakan kalender
tersendiri. Mereka belum menetapkan tahun, namun sudah mengenal
nama-nama bulan dan hari. Kalaupun harus menggunakan tahun, itu hanya
berkaitan dengan peristiwa yang terjadi, seperti Tahun Gajah yang
dinisbatkan pada masa penyerbuan Abrahah ketika akan menghancurkan
Ka’bah. Karena kesulitan dalam menetapkan tahun tersebut dan
seiring dengan makin banyaknya persoalan yang ada terkait dengan
sistem kalender yang baku, Khalifah Umar pun berinisiatif menetapkan
awal hijrah sebagai permulaan tahun masehi setelah melakukan
musyawarah dengan sejumlah sahabat.
Dari sini, disepakati
bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari
Makkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam.
Sedangkan, nama-nama bulan tetap digunakan sebagaimana sebelumnya,
yakni diawali pada bulan Muharram dan diakhiri pada bulan Dzulhijjah.
Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari
Makkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun
tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam.
Peritiwa hijrah dari
Makkah ke Madinah, kata Izzudin, merupakan peristiwa besar dalam
sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan
besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam,
terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga
melatarbelakangi pendirian kota Muslim pertama. Tahun baru dalam
Islam mengingatkan umat Islam pada kemenangan atau kejayaan Islam
serta pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.
Rotasi bulan
Bila tahun masehi
terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, tahun hijriyah hanya
berjumlah sekitar 354-355 hari. Menurut Izzudin, perbedaan ini
disebabkan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender
hijriyah. ”Rata-rata, jumlah hari dalam tahun hijriyah antara 29-30
hari. Sedangkan, tahun masehi berjumlah 28-31 hari. Inilah yang
membedakan jumlah hari antara tahun masehi dan tahun hijriyah,”
jelas anggota Badan Hisab dan Rukyah PWNU Jawa Tengah ini. Pada
sistem kalender hijriyah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika
terbenamnya matahari di tempat tersebut.
Kalender hijriyah
dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan yang memiliki 12
bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan,
bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari =
354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun
kalender hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan
penghitungan satu tahun dalam kalender masehi. Faktanya, siklus
sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender
hijriyah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. Usia bulan
yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new
moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi;
kemudian pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya
dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang
berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di
perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dan bumi berada di titik
terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini, terlihat bahwa usia
bulan tidak tetap, melainkan berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari)
sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (bulan, bumi,
dan matahari).
Penentuan awal bulan
ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal)
setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, bulan
terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari sehingga posisi hilal
berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari
ke-29, jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari.
Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari
dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan
hilal. REPUBLIKA – Minggu, 03 Mei 2009
Konsistensi
Historis-Astronomis Kalender Hijriyah
Kalender hijriyah
ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab, 17 tahun setelah
hijrahnya Rasulullah SAW. Keputusan itu muncul setelah dijumpai
kesulitan mengidentifikasikan dokumen yang tak bertahun. Hijrah
Rasulullah akhirnya sepakat dipilih dari sekian usulan alternatif
acuan tahun Islam, karena saat itulah titik awal membangun masyarakat
Islami.
Akurasi penghitungan
mundur untuk menetapkan awal tahun hijriyah dan peristiwa-peristiwa
penting lainnya sepenuhnya bergantung pada ingatan banyak orang.
Secara hitungan berskala besar, seperti tahun, kemungkinan
kesalahannya relatif kecil. Mungkin sekian banyak orang masih ingat
suatu peristiwa terjadi tahun ke berapa sesudah atau sebelum
Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah. Tetapi hitungan rinci sampai
tanggal atau bulan, kemungkinan kesalahannya lebih besar.
Riwayat kronologis
kehidupan Rasulullah yang menyatakan tentang hari atau musim
merupakan alat uji terbaik dalam analisis konsistensi
historis-astronomisnya. Urutan hari tidak pernah berubah dan
berisifat universal. Pencocokan musim diketahui dengan melakukan
konversi sistem kalender hijriyah ke sistem kalender masehi. Program
komputer sederhana konversi kalender Hijriyah-Masehi yang saya buat
digunakan sebagai pendekatan awal yang praktis dalam merekonstruksi
kronologi kejadian penting dalam kehidupan Rasulullah.
Analisis konsistensi
kronologi sejarah dengan pendekatan astronomi menunjukkan bahwa
sistem kalender hijriyah juga baik untuk menelusur kejadian sebelum
hijrah. Walaupun bilangan nol belum dikenal saat itu, sistem kalender
hijriyah ternyata telah memperkenalkan konsep tahun nol. Saat Rasul
hijrah dianggap sebagai tahun nol, karena angka tahun menyatakan
sekian tahun setelah Rasul hijrah.
Konsep tahun nol seperti
itu tidak dikenal dalam sistem kalender Masehi sehingga menimbulkan
polemik tentang kapan awal abad 21 atau milenium ke tiga (tahun 2000
atau 2001). Dengan konsep tahun nol pada tahun Hijriyah, umat Islam
secara tepat dapat menyatakan tahun 1400 lalu sebagai awal abad 15
hijriyah, yang disebut sebagai abad kebangkitan Islam.
Rekonstruksi Kronologis
Dalam sebuah hadits sahih
tentang puasa hari Senin, Rasulullah SAW menyatakan bahwa hari itu
(Senin) dilahirkan, diutus menjadi Rasul, dan diturunkan Alquran
pertama kalinya (HR Muslim). Jabir dan Ibnu Abbas berpendapat
Rasulullah SAW dilahirkan malam Senin 12 Rabiulawal, pada hari dan
tanggal itu beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, di mi’rajkan ke
langit, hijrah ke Madinah, dan wafat.
Beragam informasi
dijumpai di buku-buku tarikh tentang kejadian-kejadian itu. Haekal
menyatakan tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW saja terdapat berbagai
pendapat. Ada yang menyatakan lahir pada tanggal 2, 8, 9, atau 12.
Bulannya pun beragam: Muharam, Shafar, Rabi’ulawal, Rajab, atau
Ramadhan. Tahunnya: tahun Gajah, 15 tahun sebelum tahun Gajah, 30
tahun setelah tahun Gajah, atau 70 tahun setelah tahun Gajah. Namun
kebanyakan pendapat menyatakan Rasulullah SAW dilahirkan pada hari
Senin 12 Rabi’ulawal tahun Gajah.
Tahun Gajah adalah saat
Abraha dan pasukan bergajahnya berniat menghancurkan Ka’bah, tetapi
digagalkan Allah. Hal itu terjadi 53 tahun sebelum hijrah (secara
matematis-astronomis dapat dinyatakan sebagai tahun ’53 H).
Sehingga saat kelahiran Nabi tersebut bertepatan dengan hari Senin 5
Mei 570 M.
Kapankah tepatnya
pengangkatan beliau menjadi Rasul? Tahun kejadiannya umumnya
bersepakat pada saat Nabi berumur 41 tahun, atau tahun Gajah ke-41
(tahun -13 H). Hanya tentang tanggal dan bulannya tidak ada
kesepakatan. Menurut Jabir dan Ibnu Abbas tersebut di atas, hal itu
terjadi pada hari Senin 12 Rabi’ulawal. Itu bertepatan dengan Senin
24 Februari 609 M.
Pendapat lainnya
menyatakan terjadi pada 17 Ramadhan berdasarkan isyarat pada QS 8:41
bahwa Alquran diturunkan pada hari Furqan, hari bertemunya dua
pasukan yang ditafsirkan sebagai saat perang Badar 17 Ramadhan.
Isyarat lainnya ada pada QS 2:185 bahwa Alquran diturunkan pada bulan
Ramadhan. Bila harinya mengacu pada hadits Muslim serta pendapat
Jabir dan Ibnu Abbas, maka 17 Ramadhan -13 H tersebut bertepatan
dengan hari Senin 25 Agustus 609 M.
Hasbi Ash Shiddieqy dalam
pengantar Tafsir Al Bayaan menyatakan ayat nubuwah (pengangkatan
sebagai Nabi) pertama kali turun pada bulan Rabi’ulawal dengan 5
ayat pertama surat Al Alaq. Kemudian ayat risalah (pengangkatan
sebagai Rasul) turun pada 17 Ramadhan dengan beberapa ayat awal surat
Al Muddatstsir. Riwayat menyatakan bahwa baik saat menerima ayat
nubuwah maupun ayat risalah, Rasulullah SAW meminta Sitti Khadijah
menyelimuti beliau. Pendapat mana pun yang diambil, kenyataan pada
saat musim panas bulan Agustus Rasulullah SAW minta diselimuti,
menunjukkan betapa hebatnya ketakutan manusiawi beliau hingga beliau
menggigil.
Peristiwa Isra’ Mi’raj
saat mulai diwajibkannya shalat lima waktu pun tidak ada kesepakatan
kapan terjadinya. Sebagian besar mengikuti pendapat Ibnu Katsir dari
riwayat yang tidak sahih isnadnya, bahwa Isra’ mi’raj terjadi
pada 27 Rajab ’1 H (satu tahun sebelum Hijrah). Itu berarti terjadi
pada hari Rabu 15 Oktober 620. Tetapi bila mengikuti pendapat Jabir
dan Ibnu Abbas bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada hari Senin 12
Rabi’ulawal, berarti terjadi pada 12 Rabiul’awal -3 H (tiga tahun
sebelum Hijrah) yang bertepatan dengan Senin 6 November 618.
Peristiwa Hijrah
Rasulullah SAW terjadi pada bulan Rabi’ulawal tahun 13 Bi’tsah
(13 tahun setelah pengangkatan sebagai Rasul). Berangkat pada 2
Rabi’ilawal dan tiba pada 12 Rabi’ulawal. Saat tiba di Madinah 12
Rabi’ulawal 0 H bertepatan dengan hari Senin, 5 Oktober 621. Ini
sesuai dengan pendapat Jabir dan Ibnu Abbas bahwa hainya Senin.
Beberapa penulis riwayat Rasulullah SAW merancukan saat hijrah
tersebut dengan tahun baru hijriyah pertama. Haekal dan Al Hamid Al
Husaini menyebutkan peristiwa Hijrah terjadi pada bulan Juli. Haekal
menyatakan Rasullullah tiba di Madinah hari Jumat. Sesungguhnya bulan
Juli adalah tahun baru 1 Muharram 1 H yang jatuh pada hari Jumat, 16
Juli 622.
Puasa Ramadhan mulai
diwajibkan pada hari Senin 2 Sya’ban 2 H atau 30 Januari 624 M. Itu
berarti puasa Ramadhan pertama terjadi pada bulan Februari-Maret,
dengan suhu yang relatif sejuk dan panjang hari termasuk normal
(panjang siang hari sekitar 12 jam). Menurut analisis astronomis,
selama Rasulullah hidup hanya 9 kali beliau berpuasa, 6 kali selama
29 hari dan hanya 3 kali selama 30 hari. Puasa pertama selama 29
hari.
Riwayat tentang perang
Badar tidak konsisten dari segi hari dan tanggalnya. Menurut beberapa
pendapat, perang Badar terjadi hari Jumat 17 Ramadhan 2 H.
Sesungguhnya 17 Ramadhan 2 H jatuh pada hari Selasa 13 Maret 624.
Tanggal 17 Ramadhan yang jatuh pada hari Jumat terjadi pada tahun 1 H
yang bertepatan dengan 25 Maret 623. Namun, dikonfirmasikan dengan
peristiwa-peristiwa sebelumnya, tidak mungkin hal itu terjadi pada
tahun pertama hijriyah. Jadi, riwayat yang menyatakan perang Badar
terjadi pada hari Jumat, tidak akurat menyebutkan harinya.
Perang Uhud yang
memberikan pelajaran berharga akan pentingnya ketaatan kepada
perintah Rasul terjadi pada 15 Syawal 3 H atau hari Ahad 31 Maret
625. Pada perang tersebut kemenangan berbalik menjadi kekalahan
ketika pasukan pemanah yang diperintah Rasulullah tidak taat untuk
tetap di tempat. Walaupun demikian kedua belah pihak sama-sama
menderita korban yang besar. Kemudian Abu Sufyan ketika hendak
meninggalkan medan perang menantang untuk berperang kembali di Badar.
Ternyata perang Badar
Shugra (Badar kecil) yang terjadi pada Sya’ban 4 H (Januari 626)
saat musim paceklik tidak jadi berlangsung karena Abu Sufyan merasa
ketakutan dan menarik pasukannya kembali ke Mekah (QS 3:172-174).
Mungkin pada peristiwa inilah, yang terjadi sebelum Ramadhan,
Rasulullah menyatakan bahwa mereka baru pulang dari perang yang kecil
menuju jihad yang besar, jihadunafs, jihad melawan hawa nafsu pada
puasa Ramadhan yang menjelang tiba.
Berbeda dengan perang
Badar kubra dan perang Uhud yang terjadi pada awal musim semi, perang
Khandaq terjadi pada musim dingin saat krisis pangan dan perang Tabuk
pada akhir musim panas yang sangat terik. Perang Khandaq (parit)
terjadi pada bulan Syawal 5 H (Februari 627). Saat itu kaum Muslimin
yang membentengi diri dengan parit di sekeliling Madinah dikepung
selama 3 pekan. Kaum musyrikin menghentikan pengepungannya setelah
diporak porandakan oleh badai yang sangat dingin.
Perang Tabuk terjadi pada
bulan Rajab 9 H (Oktober 630). Hadits dan Alquran (QS 9:81)
menceritakan perjuangan yang berat di tengah cuaca yang sangat terik
menghadapi ancaman tentara Rumawi. Sebagian penulis sejarah meragukan
peristiwa tersebut terjadi pada bulan Oktober yang dianggapnya sudah
memasuki musim dingin, yang berbeda dari ungkapan dalam hadits atau
Alquran. Tapi sesungguhnya pada bulan itu suhu mendekati 30 derajat
pada siang hari bukan hal yang mustahil dalam perjalanan dari Madinah
ke Tabuk (dekat Jordan).
Hari-hari terakhir
kehidupan Rasulullah ditandai dengan turunnya QS 5:3 yang menyatakan
bahwa Allah telah menyempurkan agama Islam dan meridlainya. Ayat itu
turun saat wukuf di Arafar 9 Dzulhijjah 10 H yang bertepatan dengan
Jumat 6 Maret 632. Mungkin ini berkaitan dengan sebutan haji akbar
bila wukufnya jatuh pada hari Jumat.
Tiga bulan setelah
turunnya ayat tersebut Rasulullah wafat pada 12 Rabi’ulawal 11 H.
Analisis astronomis menyatakan 12 Rabi’ulawal mestinya jatuh pada
hari Sabtu 6 Juni 632. Namun banyak yang berpendapat Rasulullah wafat
pada hari Senin, itu berarti tanggal 8 Juni 632. Perbedaan dua hari
tidak dapat dijelaskan akibat terjadinya istikmal (penggenapan
menjadi 30 hari) bulan Shafar. Mungkin yang terjadi adalah
‘kelalaian’ masal dalam penentuan awal bulan akibat kesedihan
ummat yang mendalam menghadapi Rasul yang dicintainya menderita sakit
sejak bulan Shafar.
Terlepas dari ‘kelalaian’
tersebut ada hal yang menarik tentang hari Senin 12 Rabi’ulawal
tersebut. Apakah suatu kebetulan atau mu’jizat Rasulullah SAW,
ternyata beberapa peristiwa penting jatuh pada hari Senin 12
Rabi’ulawal. Konsistensi hari dan tanggal membuktikan bahwa
Rasulullah lahir, hijrah, dan wafat terjadi pada hari dan tanggal
tersebut. Walaupun tidak banyak yang bersepakat, pengangkatan sebagai
Nabi saat menerima wahyu pertama kali dan peristiwa Isra’ Mi’raj
mungkin pula terjadi pada hari dan tanggal tersebut.
T. Djamaluddin adalah
peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung.
Sumber:
http://media.isnet.org
by osis smpn 1 mancak
Hari Guru Nasional Ke-66
Tidak banyak diantara kita yang tahu bahwa hari ini 25 November 2011 adalah hari guru yang ke-66. Tentu ada sebuah harapan besar di hari ulang tahun guru ini. Harapan besar itu adalah bersatunya para pendidik dalam satu wadah organisasi yang bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Suka atau tidak suka PGRI adalah salah satu organisasi pendidik terbesar yang diakui pemerintah, dan hari kelahiran PGRI kita peringati sebagai hari guru.
PB PGRI mengusung tema Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke 66 Tahun 2011 ”Meningkatkan Peran Strategis Guru untuk Membangun Karakter Bangsa”. Tema tersebut momentum yang tepat, disaat gunjang-ganjingnya permasalahan bangsa, guru menjadi tambatan hati untuk menjadi public figure dalam membentuk kepribadian dan karakter bangsa. Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan.
Berikut ini adalah kilas balik Sejarah kelahiran PGRI
PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran.
Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran.
Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tengah bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :
- Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
- Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;
- Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya. Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.
Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.
Disaat banyak media mengeksploitasi kebejatan moral para petinggi bangsa, di saat masyarakat mendambakan sebuah aksi perubahan yang sering dikampanyekan oleh juragan politik, bagaimana posisi seorang guru? Sungguh sayang sekali, justru disaat kebutuhan akan guru sangat mendesak untuk menambal sulam yang pensiun. Kenyataanya kebutuhan akan profesi guru harus di moratorium juga, walau banyak teriakan hausnya sebuah pendidikan bermutu banyak dilontarkan oleh corong-corong daerah. Kondisi objektif ini masih belum menunjukkan harapan yang signifikan antara keberimbangan pangsa pasar (peserta didik) dengan SDM (kuota guru) yang ada.
Hari Guru Nasional dan HUT PGRI yang ke 66, tahun ini adalah usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Seharusnya menjadi sebuah refleksi, renungan dan evaluasi bagi semua guru untuk membuka kembali lembar catatan dari banyak peristiwa, persoalan, tantangan, dan kendala yang telah dihadapi. Seberapa besar ponten yang dapat kita berikan untuk profesionalitas diri kita? Tentu, kita sendirilah yang bisa menjawabnya. Karena menjadi guru profesional bukanlah perkara gampang, maka perlu kesadaran dari diri kita juga yang harus memulainya untuk mengangkat citra profesi yang digugu dan ditiru. Citra guru yang baik akan mengangkat kualitas pendidikan itu sendiri. Dan pendidikan yang baik akan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Mudah-mudahan para guru selalu mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. “Tidak ada guru, tidak ada pendidikan, tidak ada pendidikan mustahil ada proses pembangunan”. Hanya dengan sentuhan guru yang profesional, bermartabat, dan ditauladani, maka anak-anak bangsa akan menerima proses pembelajaran yang mendidik dan bermutu. Ada sebuah kalimat hikmah, “man yazra’ wa huwa yahsud”, artinya siapa yang menanam, dialah yang akan memanen. Jika kita menginginkan kebaikan bagi diri kita, maka mulailah dari diri kita untuk menebarkan kebaikan kepada orang lain. Dalam makna lain siapa yang menanam padi, dia akan memanen padi pula. Bahkan rumput pun akan tumbuh disekitar padi itu. Namun, siapa yang menanam rumput, jangan harap ada padi yang bisa tumbuh.
Oleh karena itu guru harus meningkatkan customer service bagi anak didiknya. Karena jasa-jasa guru akan terpatri dan guru akan selalu hidup dalam setiap kenangan dan langkah kehidupan anak didiknya, sebagaimana sering dilantunkan peserta didik dalam lagu Hymne Guru. Akhir dari tulisan ini, ada seuntai pesan kata bijak dari orang yang telah melanglang buana menikmati indahnya profesi guru. Prof. Dr. A. Malik Fadjar dalam tulisannya “Guru itu adalah cermin pendidikan, dan pendidikan itu akan tercermin dari para guru”. Semoga menjadi spirit buat para guru Indonesia dan direfleksikan dalam sisa perjalanan usia kita. Selamat Hari Guru Nasional dan Sukses untuk kita semua.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Source : http://www.pontianakpost.com
Jumat, 18 November 2011
Kamis, 17 November 2011
Mengenal Palang Merah Remaja
Palang Merah Remaja atau
PMR adalah wadah pembinaan dan pengembangan anggota remaja yang
dilaksanakan oleh Palang Merah Indonesia. Terdapat di PMI Cabang
seluruh Indonesia dengan anggota lebih dari 1 juta orang.
Anggota PMR merupakan
salah satu kekuatan PMI dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
kemanusiaan dibidang kesehatan dan siaga bencana, mempromosikan
Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
Internasional, serta mengembangkan kapasitas organisasi PMI.
Sejarah
Terbentuknya Palang Merah
Remaja dilatar belakangi oleh terjadinya Perang Dunia I (1914 –
1918) pada waktu itu Austria sedang mengalami peperangan. Karena
Palang Merah Austria kekurangan tenaga untuk memberikan bantuan,
akhirnya mengerahkan anak-anak sekolah supaya turut membantu sesuai
dengan kemampuannya. Mereka diberikan tugas – tugas ringan seperti
mengumpulkan pakaian-pakaian bekas dan majalah-majalah serta Koran
bekas. Anak-anak tersebut terhimpun dalam suatu badan yang disebut
Palang Merah Pemuda (PMP) kemudian menjadi Palang Merah Remaja (PMR).
Pada tahun 1919 di dalam
sidang Liga Perhimpunan Palang Merah Internasional diputuskan bahwa
gerakan Palang Merah Remaja menjadi satu bagian dari perhimpunan
Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Kemudian usaha tersebut diikuti
oleh negara-negara lain. Dan pada tahun 1960, dari 145 Perhimpunan
Palang Merah dan Bulan Sabit Merah sebagian besar sudah memiliki
Palang Merah Remaja.
Di Indonesia pada Kongres
PMI ke-IV tepatnya bulan Januari 1950 di Jakarta, PMI membentuk
Palang Merah Remaja yang dipimpin oleh Ny. Siti Dasimah dan Paramita
Abdurrahman. Pada tanggal 1 Maret 1950 berdirilah Palang Merah Remaja
secara resmi di Indonesia.
Pendidikan dan
pelatihan PMR
Palang Merah Remaja atau
PMR adalah organisasi kepemudaan binaan dari Palang Merah Indonesia
yang berpusat di sekolah-sekolah dan bertujuan memberitahukan
pengetahuan dasar kepada siswa sekolah dalam bidang yang berhubungan
dengan kesehatan umum dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Untuk mendirikan atau
menjadi anggota palang merah remaja disekolah, harus diadakan
Pendidikan dan Pelatihan Diklat untuk lebih mengenal apa itu
sebenarnya PMR dan sejarahnya mengapa sampai ada di Indonesia, dan
pada diklat ini para peserta juga mendapatkan sertifikat dari PMI.
Dan baru dianggap resmi menjadi anggota palang merah apabila sudah
mengikuti seluruh kegiatan yang diadakan oleh palang merah remaja
disekolah.
PMI mengeluarkan
kebijakan pembinaan PMR:
- Remaja merupakan prioritas pembinaan, baik dalam keanggotaan maupun kegiatan kepalangmerahan.
- Remaja berperan penting dalam pengembangan kegiatan kepalangmerahan.
- Remaja berperan penting dalam perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan proses pengambilan keputusan untuk kegiatan PMI.
- Remaja adalah kader relawan.
- Remaja calon pemimpin PMI masa depan.
Tujuan
pembinaan dan pengembangan PMI masa depan:
- Penguatan kualitas remaja dan pembentukan karakter.
- Anggota PMR sebagai contoh dalam berperilaku hidup sehat bagi teman sebaya.
- Anggota PMR dapat memberikan motivasi bagi teman sebaya untuk berperilaku hidup sehat.
- Anggota PMR sebagai pendidik remaja sebaya.
- Anggota PMR adalah calon relawan masa depan.
Jumbara
Jumbara atau Jumpa Bhakti
Gembira adalah kegiatan besar organisasi PMR seperti halnya jambore
pada organisasi Pramuka.Jumbara diadakan dalam setiap tingkatan. Ada
jumbara tingkat kabupaten, daerah dan Jumbara Nasional. dimana
pelaksanaanya disesuaikan dengan kemampuan PMI daerah yang
bersangkutan.
Tribakti
PMR
Dalam PMR ada tugas yang
harus dilaksanakan, dalam PMR dikenal tri bakti yang harus diketahui,
dipahami dan dilaksanakan oleh semua anggota. TRIBAKTI PMR (2009)
tersebut adalah:
- Meningkatkan keterampilan hidup sehat
- Berkarya dan berbakti kepada masyarakat
- Mempererat persahabatan nasional dan internasional.
Tingkatan
PMR
Di Indonesia dikenal ada
3 tingkatan PMR sesuai dengan jenjang pendidikan atau usianya
- PMR Mula adalah PMR dengan tingkatan setara pelajar Sekolah Dasar (10-12 tahun). Warna emblem Hijau
- PMR Madya adalah PMR dengan tingkatan setara pelajar Sekolah Menengah Pertama (12-15 tahun). Warna emblem Biru Langit
- PMR Wira adalah PMR dengan tingkatan setara pelajar Sekolah Menengah Atas (15-17 tahun). Warna emblem Kuning
Prinsip
Dasar kepalang-merahan
Dalam PMR dikenalkan 7
Prinsip Dasar yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh setiap
anggotanya. Prinsip-prinsip ini dikenal dengan nama"7 Prinsip
Dasar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional" (Seven
Fundamental Principle of Red cross and Red Crescent).
Kemanusiaan
Gerakan Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah lahir dari keinginan untuk memberikan pertolongan
kepada korban yang terluka dalam pertempuran tanpa membeda-bedakan
mereka dan untuk mencegah serta mengatasi penderitaan sesama.
Tujuannya ialah melindungi jiwa dan kesehatan serta menjamin
penghormatan terhadap umat manusia. Gerakan menumbuhkan saling
pengertian, kerja sama dan perdamaian abadi antar sesama manusia.
Kesamaan
Gerakan memberi bantuan
kepada orang yang menderita tanpa membeda-bedakan mereka berdasarkan
kebangsaan, ras, agama, tingkat sosial atau pandangan politik.
tujuannya semata-mata ialah mengurangi penderitaan orang lain sesuai
dengan kebutuhannya dengan mendahulukan keadaan yang paling parah.
Kenetralan
Gerakan tidak memihak
atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, ras, agama, atau
ideologi.
Kemandirian
Gerakan bersifat mandiri,
setiap perhimpunan Nasional sekalipun merupakan pendukung bagi
pemerintah dibidang kemanusiaan dan harus mentaati peraturan hukum
yang berlaku dinegara masing-masing, namun gerakan bersifat otonom
dan harus menjaga tindakannya agar sejalan dengan prinsip dasar
gerakan.
Kesukarelaan
Gerakan memberi bantuan
atas dasar sukarela tanpa unsur keinginan untuk mencari keuntungan
apapun.
Kesatuan
Didalam satu Negara hanya
boleh ada satu perhimpunan Nasional dan hanya boleh memilih salah
satu lembaga yang digunakan Palang merah Bulan Sabit Merah. Gerakan
bersifat terbuka dan melaksanakan tugas kemanusiaan diseluruh wilayah
negara bersangkutan.
Kesemestaan
Gerakan bersifat semesta.
Artinya, gerakan hadir diseluruh dunia. Setiap perhimpunan Nasional
mempunyai status yang sederajat, serta memiliki hak dan tanggung
jawab yang sama dalam membantu sama lain.
Senin, 14 November 2011
MANFAAT UPACARA BENDERA
Upacara sebenarnya juga
bagian dari interaksi edukatif dan instrument/alat yang cukup efektif
untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai tertentu serta upaya
mengaktualkan potensi-potensi insan didik. Nilai-nilai tersebut
diantaranya :
1. Potensi Kepemimpinan
Setiap siswa secara
bergilir diberi kesempatan untuk tampil memimpin upacara. Sebagai
pemimpin upacara dituntut untuk melakukan aba-aba/tindakan-tindakan
tertentu, dalam satu tahun ajaran seorang siswa dapat memperoleh 2 –
3 kali memimpim teman-temannya.
2. Tertib Sosial Normatif
lmperatif
Ada aba-aba dan tata cara
yang baku yang memimpin maupun yang dipimpin. Ketika seseorang
berperan memimpin harus bisa memainkan peran sesuai posisinya. Begitu
juga yang berposisi yang dipimpin. Dari sini diharapkan tumbuh
kesadaran bahwa pada setiap kelompok sosial demi tertib sosial
terdapat aturan-aturan/norma-norma yang bersifat imperative/memaksa
sebagai konsekuensi seseorang memasuki suatu kelompok sosial.
3. Rasa Percaya Diri
Pengalaman membuktikan
sebagian siswa masih mengalami demam tampil/ndredeg ketika harus
tampil memimpin. Namun, umumnya hilang ketika giliran kedua atau
seterusnya.
4. Kebersamaan/Jiwa
Korsa/Esprit de Carps
Dalam posisi upacara,
untuk melanjutkan ke gerakan/aba-aba berikutnya ditempuh jika
aba-aba/perintah sebelumnya telah sepenuhnya dilaksanakan. Manakala
ada satu/sebagian siswa lalai/tidak mematuhi aba-aba, maka
“tersanderalah” seluruhnya. Melalui pembiasaan yang demikian,
diharapkan tumbuh kesadaran akan kebersamaan. Diri seseorang adalah
bagian dari kelompok-(nya).
5. Tanggungjawab
Ada sejumlah hal yang
harus dilaporkan seperti jumlah, kurang, hadir, dan keterangan
masing-masing yang berhalangan hadir. Pemimpin harus secara akurat
melaporkannya kepada guru. Yang demikian dimaksudkan untuk
menumbuh-kembangkan sikap koreksi dan tanggungjawab
6. Tenggang Rasa
Sekali lagi pengalaman
membuktikan meski seseorang sebelumnya sudah mempersiapkan diri namun
ketika tampil memimpin acapkali masih melakukan kekeliruan. Temyata
berperan sebagai pemimpin tak semudah yang menerima/melaksanakan
aba-aba. Pengalaman-pengalaman seperti ini akan menumbuh-kembangkan
kesadaran tenggang rasa.
7. Loyalitas Kritis
Berjiwa Merdeka
Ketika sang pemimpin
melakukan kesalahan (misal : dalam memberi aba-aba, laporan, gerakan
tertentu) maka anak buah (teman-teman sekelasnya) yang dalam posisi
dipimpin wajib memberikan koreksi dengan ucapan “ulangi”
pernyataan korektif tersebut dilakukan sebanyak kesalahan yang
dilakukan pemimpin dan baru tidak dilakukan lagi manakala sudah
benar.
Dari tradisi yang
demikian diharapkan tertanam kesadaran sikap loyal sekaligus kritis
bukan mentalitas “yes man” atau loyalitas tanpa reserves. Anak
buah dan/atau staf yang loyal adalah yang bisa mendukung sekaligus
mengingatkan/mengoreksi. Loyalitas yang benar adalah loyalitas kepada
person/pribadi orang yang kebetulan menjabat. Kepatuhan yang sehat
dan rasional adalah kepatuhan bersyarat yaitu selama
perintah/kebijakan pimpinan tidak keluar dan merusak misi organisasi
dan secara hakiki bisa dipertanggungjawabkan secara horisontal
(kepada sesama manusia) maupun vertikal (kepada Tuhan).
10 Alasan baik mengapa kita perlu berdo'a dengan tekun
1.
Mengurangi daya stress yang ditimbulkan oleh beraneka ragam persoalan
hidup yang kita alami, mereka yang suka malas berdo'a akan lebih mudah
untuk mengalami stress
2.
Menurunkan tingkat emosi atau kemarahan mereka yang lebih sering
berdoa akan lebih mampu mengendalikan diri dalam hal emosi dan
kemarahan mereka yang sedang mau marah dan kemudian berdoa niscaya
emosinya menjadi stabil
3.
Mengurangi bahkan menghilangkan rasa putus asa mereka yang tekun
berdoa akan memiliki kemampuan lebih untuk tidak mudah putus asa saat
berada dalam kegagalan dibanding mereka yang jarang bahkan sama
sekali malas berdoa
4.
Meningkatkan ketegaran hati mereka yang lebih tekun berdo'a akan lebih
tegar menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar yang
dikehendakinya bahkan peristiwa pahit sekalipun
5.
Meningkatkan daya tahan tubuh dari penyakit-penyakit yang disebabkan
gangguan psikis dengan ketekunan dalam berdoa, seseorang akan
memiliki daya tahan secara fisik karena mampu untuk menghadapi dan
menjalani kehidupan dengan segala peristiwanya dalam terang Kehendak
Allah, sehingga tubuh tidak menjadi mudah lemah karena beban pikiran
dan pekerjaan (bhs Jawa Nrimo)
6.
Membuat orang menjadi lebih terbuka terhadap kelemahan dan kekurangan
sesama mereka yang tekun berdoa dengan baik memiliki sikap yang lebih
terbuka terhadap sesamanya karena ia akan terbantu dalam doa-doanya
untuk menyadari juga kelemahan-kelemahan nya sendiri
7.
Meningkatkan daya cinta kasih kepada diri sendiri dan orang lain
ketekunan dalam doa membuat seseorang memiliki relasi intim dengan
Tuhan Allah. Allah sendiri adalah kasih maka mereka yang tekun berdoa
niscaya memiliki daya cinta kasih yang lebih kepada diri sendiri dan
sesamanya. Mereka yang terjerumus dalam narkoba pastilah orang yang
tidak tekun berdoa karena tidak mampu mencintai dan mengasihi diri
sendiri
8.
Meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan diri. Seseorang yang dalam
hidupnya tekun untuk berdoa akan memiliki kekuatan dan kemampuan
untuk mengembangkan diri dengan lebih maksimal, karena ia akan
semakin memahami talenta-talenta yang Tuhan berikan dan bagaimana
seharusnya dikembangkan
9.
Menjadikan yang tidak baik menjadi baik setiap orang yang tekun
berdoa akan memiliki kemampuan untuk merubah yang tidak baik menjadi
baik, dibandingkan mereka yang malas berdoa justru menjadikan yang
baik menjadi buruk
10.
Layak menerima keselamatan. Dengan berdoa tekun seseorang
mendapatkan kesempatan untuk semakin kuat dan bahkan karena relasinya
yang baik dengan Allah selagi di dunia ini ia juga akan mengalami
yang sama kelak di keabadian.
Sabtu, 12 November 2011
Bagaimana Embun Terjadi?
Pengertian
embun
Dalam
kamus umum bahasa Indonesia, embun diartikan titik-titik air yang
jatuh dari udara (pada malam hari). Secara umum, embun adalah nama
yang diberikan untuk bintik-bintik air yang sering dijumpai menempel
pada daun-daunan, dan rumput.
Proses
terjadinya embun
Embun
terbentuk ketika udara yang berada di dekat permukaan tanah menjadi
dingin mendekati titik dimana udara tidak dapat lagi menahan semua
uap air. Kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi embun di atas
benda-benda di dekat tanah. Sepanjang hari benda-benda menyerap panas
dari matahari. Sedangkan di malam hari benda-benda kehilangan panas
tersebut melalui suatu proses yang disebut radiasi termal. Ketika
benda-benda di dekat tanah menjadi dingin, suhu udara disekitarnya
juga menjadi berkurang. Udara yang lebih dingin tidak dapat menahan
uap air sebanyak udara yang lebih hangat. Jika suhu udara bertambah
semakin dingin, maka akhirnya akan mencapai titik embun. Titik embun
adalah suhu dimana udara masih sanggup menahan uap air sebanyak
mungkin. Bila suhu udara semakin bertambah dingin, sebagian uap air
akan mengembun di atas permukaan benda yang terdekat
Embun
terbentuk dengan baik pada malam hari yang cerah dan tenang. Ketika
angin bertiup, udara tidak cukup waktu untuk bersentuhan dengan
benda-benda dingin, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu untuk
menjadi dingin mendekati titik embun. Ketika langit berawan
benda-benda menjadi dingin lebih lama karena awan memancarkan kembali
panas ke bumi. Embun juga terbentuk dengan baik ketika kelembaban
tinggi.
Embun
menguap ketika matahari bersinar. Matahari memanaskan tanah dan
kembali menghangatkan udara. Udara yang lebih hangat dapat menahan
uap air lebih banyak, dan embun menguap ke dalam udara ini.
Embun
beku
Biasanya
embun terbentuk pada titik embun dan kemudian membeku, disebut embun
beku atau embun putih. Embun beku terbentuk ketika titik embun berada
dibawah titik beku, sehingga mengakibatkan uap air yang lebih
langsung membeku di atas benda-benda di dekat tanah.
Embun
beku adalah sebuah pola dari kristal-kristal es yang terbentuk dari
uap air di atas rumput, daun, dan benda-benda lainnya yang berada di
dekat tanah. Embun beku terbentuk terutama pada malam yang dingin dan
tak berawan ketika suhu udara turun di bawah 0oC yakni suhu titik
beku air. Embun beku dan embun terbentuk dengan cara yang tidak jauh
berbeda. Sepanjang hari permukaan bumi menyerap panas dari matahari,
ketika matahari terbenam bumi mulai menjadi dingin. Turunnya suhu
jauh lebih besar pada malam yang cerah dibandingkan dengan malam yang
berawan, karena tidak ada awan yang memantulkan kembali panas yang
dilepas oleh permukaan bumi.
Ketika
proses pendinginan berlanjut, uap air di udara mengembun membentuk
titik-titik embun pada benda-benda. Sebagian titik-titik embun ini
membeku ketika suhu turun di bawah 0o C. Titik-titik embun yang
membeku semakin bertambah ukurannya, menjadi kristal beku ketika
titik-titik embun di sekelilingnya menguap dan mengumpulkan uap air
di atas kristal. Pada saat suhu berada di bawah titik beku uap air
kadangkala langsung berubah menjadi kristal es, tanpa harus berubah
menjadi titik embun. Kristal-kristal beku muncul dalam dua macam
bentuk, menyerupai piring dan pilar. Kristal yang menyerupai piring
berbentuk rata dan menyerupai kristal salju. Kristal-kristal pilar
berupa tiang es kosong berbentuk segi enam.
Kata
beku juga bermakna suhu di bawah titik beku yang membahayakan
tanaman. Pada suhu ini cairan yang berada di dalam sel-sel tanaman
membeku dan mengembang, mengakibatkan pecahnya dinding-dinding sel.
Sumber
: www.merbabu.com
Asal Usul Nama Rupiah, Darimana ya?
Rupiah (Rp) adalah mata uang Indonesia, kodenya adalah IDR. Nama ini diambil dari mata uang India rupee. Sebelumnya di daerah yang disebut Indonesia sekarang menggunakan gulden Belanda dari tahun 1610 sampai tahun 1817, ketika gulden Hindia-Belanda diperkenalkan.
Nama rupiah pertama kali digunakan secara resmi dengan dikeluarkannya mata uang rupiah jaman pendudukan Dai Nippon pada Perang Dunia II. Setelah perang selesai, Bank Jawa, pelopor Bank Indonesia, mengeluarkan Rupiah. Sedangkan Tentara Sekutu mengeluarkan Gulden Nica.
Sementara itu di daerah-daerah lain di di daerah yang sekarang disebut Indonesia, banyak beredar uang yang bertalian dengan aktivitas gerilya. Pada tanggal 2 November, 1949 rupiah ditetapkan sebagai mata uang nasional. Di daerah kepulauan Riau dan Papua, kala itu masih digunakan mata uang lain. Baru pada tahun 1964 dan 1971 rupiah digunakan di sana.
Di daerah Timor Timur, rupiah digunakan dari tahun 1976 – 2001. Semenjak tahun 2001 sampai sekarang digunakan dolar AS.
Sumber : netsains.com
Kamis, 10 November 2011
Makna Hari Pahlawan
Setuju!!
nggak ada yg kaum muda masa kini bisa lakukan selain dgn
ber-PRESTASI, dgn prestasi, maka kita punya NILAI di hadapan bangsa
lain. Dengan prestasi berarti qta bangga sama INDONESIA.
I
LOVE INDONESIA SO MUCH.
“Pahlawan
Sejati” adalah pahlawan yang ikhlas berjuang dan tiada mengharapkan
pujian ataupun gelar sebagai pahlawan.......
Pahlawan
masa kini bukan sebatas pejuang secara fisik, karena yang dibutuhkan
adalah pahlawan yang mampu membebaskan bangsa dari kemiskinan,
kebodohan, dll.
Saat
ini memang kita semua bisa jadi pahlawan untuk Indonesia, dengan
menjalankan peran kita sebaik mungkin.
Kita
sebagai warga negara Indonesia harus menghargai jasa para pahlawan
kita..
karena
bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para
pahlawannya.
Bangsa kita setiap tahun
merayakan Hari Pahlawan pada 10 November. Pada saat itulah kita
mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan harta
dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.
Kita memilih 10 November sebagai Hari Pahlawan karena pada tanggal
tersebut 61 tahun silam para pejuang kita bertempur mati-matian untuk
melawan tentara Inggris di Surabaya.
Saat itu kita hanya
mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang
menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar
untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada
saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat
perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Ruslan Abdul Gani
yang meninggal beberapa waktu lalu, adalah salah seorang pelaku
sejarah waktu itu.
Setiap tahun kita
mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu
menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna
hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung
bersifat seremonial. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa
seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu.
Tugas kita saat ini
adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai
dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan
kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib
menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah
kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.
Akan tetapi kepahlawanan
tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita
dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah
orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam
membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah
berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat
pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan
kekesatriaan?
Menghadapi situasi
seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala
bidang kehidupan. Dalam konteks ini kita dapat mengisi makna Hari
Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10 November, termasuk
pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan,
pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil
dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kita mencatat beberapa
wilayah Indonesia masih dihantui tindakan teror. Kita membutuhkan
orang yang berani untuk menangkap pelakunya. Negeri kita sedang
dililit kanker korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Kita
membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya. Seorang ilmuwan
pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya berkat penemuannya yang
dapat menyejahterahkan orang banyak. Seorang petugas pemadam
kebakaran yang tewas saat berjuang mematikan api yang sedang membakar
rumah penduduk adalah pahlawan juga.
Setiap orang harus
berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak
hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup
kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk
diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik
dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Mahasiswa
Universitas Trisakti yang tewas ditembak dalam perjuangan reformasi
sewindu lalu adalah pahlawan, meskipun negara belum menobatkan mereka
sebagai pahlawan.
Memang tidak mudah untuk
menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan
bakiak, yaitu suami yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi
pahlawan kesiangan, yakni orang yang baru mau bekerja (berjuang)
setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa
perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai
menyatakan diri pejuang.
Hari ini kita merayakan
Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang pada masa silam. Kita
bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk
mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak
prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan
sekarang.
Kewajiban dan Rincian Tugas Pengurus OSIS
Kewajiban Pengurus OSIS secara umum
- Menyusun dan melaksanakan program kerja sesuai dengan AD/ART OSIS
- Selalu menjunjung tinggi nama baik, kehormatan dan martabat sekolah
- Selalu berkonsultasi dengan pembina
Rincian Tugas Pengurus secara Khusus
- Ketua
- Memimpin organisasi dengan baik dan bijaksana
- Mengkoordinasikan semua aparat kepengurusan
- Menetapkan kebijaksanaan yang telah dipersiapkan dan direncanakan oleh aparat kepengurusan
- Memimpin rapat
- Menetapkan kebijaksanaan dan mengambil keputusan berdasarkan musyawarah mufakat
- Setiap saat mengevaluasi kegiatan aparat kepengurusan
- Wakil ketua
- Bersama-sama ketua menetapkan kebijakan
- Memberikan saran kepada ketua dalam pengambilan keputusan
- Menggantikan ketua jika ketua berhalangan
- Membantu ketua dalam melaksanakan tugasnya
- Bertanggungjawab kepada ketua
- Wakil ketua I mengkoordinir wakil sekretaris I dan sekretaris bidang I, II, III dan IV, wakil ketua II mengkoordinir wakil sekretaris II, sekretaris bidang V, VI, VII, dan VIII
- Sekretaris
- Memberi saran/masukan kepada ketua dalam mengambil keputusan
- Mendampingi ketua dalam memimpin rapat
- Menyiapkan, mendistribusikan dan menyimpan surat serta arsip yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan
- Menyiapkan laporan, surat, hasil arapt dan evalauasi kegiatan
- Bersama ketua menandatangani setiap surat
- Bertanggung jawab atas tertib administrasi organisasi
- Bertindak sebagi notulis dalam rapat, atau diserahkan kepada wakil sekretaris
- Wakil Sekretaris
- Aktif membantu pelaksanaan tuagas sekretaris
- Menggantikan sekretaris, jika sekretaris berhalangan
- Masing-masing wakil sekretaris mengkoordinir sekretaris bidang I, II, III, dan IV, Wakil sekretaris bidang V, VI, VII, dan VIII
- Bendahara dan wakil bendahara
- Bertanggungjawab dan mengetahui segala pemasukan/pengeluaran uang/biaya yang diperlukan
- Membuat tanda bukti kuitansi setiap pemasukan/pengeluaran uang untuk pertanggungjawaban
- Bertanggungjawab atas inventaris dan perbendaharaan
- Menyampaiakan laporan keuangan secara berkala
- Sekretaris Bidang
Bertanggungjawab atas seluruh kegiatan
yang menjadi tanggungjawabnya
Melaksanakan kegiatan yang telah
diprogramkan
Menyampaikan laaporan
pertanggungjawaban kegiatan kepada pengurus pada akhir kegiatan
Pokok-pokok kegiatan sekretaris
bidang
Bidang
ketakwaan terhadap Tuhan YME :
* Melaksanakan ibadah
* Memperingati hari besar
agama
* Mengadakan lomba bersifat
kegamaan
* dll
Bidang
kehidupan berbangsa dan bernegara
* Melaksanakan upacara
bendera
* Melaksanakan bakti sosial
* Memelihara kelestraian dan
keindahan lingkungan sekolah
* dll
Bidang
Pendidikan Pendahuluan Bela Negara :
* Melaksanakan tata tertib
sekolah
* Melaksanakan PBB
* Melaksanakan wisata siswa,
mendaki gunung, napak tilas dsb.
* dll
Bidang
Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur :
* Melaksanakan tata karama
siswa
* Melaksanakan kegiatan amal
untuk meringankan penyandang cacat, orang
jompo, orang yang tertimpa musibah bencana
alam
* Melaksanakan P4 (sekarang
kewarganegaraan)
* dll
Bidang
Berorganisasi, Pendidikan Politik dan Kepemimpinan :
* Memantapkan OSIS dan
mengembangkan program OSIS
* Melaksanakan Latihan
Kepemimpinan Siswa
* Menyelenggaran forum
diskusi ilmiah
* Melaksanakan
penataran/pelatihan pancasila dan kewarganegaraan
* dll
Bidang
Ketrampilan dan Kewiraswastaan :
* Meningkatkan usaha koperasi
sekolah
* Melaksanakan Praktek Kerja
Nyata (PKN)
* Membuat ketrampilan dengan
bahan bekas
* dll
Bidang
Kesegaran Jasmani dan Daya Kreasi Siswa :
* Menyelenggarakan lomba
Olahraga
* Menyelenggarakan senam pagi
* Melaksanakan pencegahan
penyalahgunaan narkotika
* Pelestarian lingk. hidup
yang dikreasikan berupa : penghijaun, perbaikan
selokan, dll.
* Gerakan kebersihan
lingkungan yang dikreasikan berupa : membersihan
corat-coret di
dinding, meja, kursi, dsb.
* Menciptakan barang-barang
yang tak berguna menjadi berguna dan bernilai
* dll
Bidang
Persepsi, Apresiasi dan Kreasi Seni :
* Menyelenggaraakan berbagai
macam pentas seni
* Menyelenggarakan lomba
lawak, panggung remaja, deklamasi/baca puisi
* Menyelenggarakan sanggar
berbagai macam seni, dan
* Kegiatan lainnya
Selamat bekerja semoga sukses, semua
kita bisa.
Hidup …... !!!!! OSIS SMP Negeri 1
Mancak
Rabu, 09 November 2011
Sopan Santun
Sopan santun, tata krama, Unggah ungguh atau etiket adalah kata yang berbeda tetapi mempunyai arti yang sama, yaitu aturan-aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis dan sudah menjadi adat istiadat yang harus kita patuhi, jalani dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Apabila kita tidak menjalankannya maka kita akan dianggap orang yang aneh, berbeda atau tidak aturan.
Dalam budaya Jawa maka tata krama atau unggah ungguh sudah ada sejak dahulu kala dan selalu diajarkan secara turun temurun oleh kakek nenek buyut kita atau bahkan nenek moyang kita yang selalu kita dengar ceritanya sejak kecil sampai saat ini.
Dalam era modern seperti sekarang ini masih banyak etiket atau tata krama yang harus kita pegang dan junjung tinggi karena memang mengandung nilai-nilai luhur yang sangat sulit untuk dihilangkan.
Tata krama itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, tetangga, lebih-lebih lingkungan kerja atau bisnis. Setiap langkah kehidupan kita selalu ada tata krama nya, misal dalam lingkungan keluarga jika kita akan pergi sejak kecil kita dididik untuk pamit kepada orang tua atau yang ada dirumah, jika bertamu wajib kulo nuwun dan saat pulang wajib pamit kepada tuan rumah. Saat kecil saya selalu dididik untuk berpamit juga kepada orang tua atau keluarga yang saya datangi, sehingga secara tidak langsung saya juga mengenal keluarga dari teman yang saya kunjungi.
Demikian juga saat mengantar teman wanita dari suatu kegiatan lebih-lebih jika sampai malam hari, maka saya wajib mengantarkan sampai di rumah dan bertemu dengan orang tua atau keluarganya dan menyerahkan kepada kepada mereka, dalam hal ini akan terasa kebenaran dari pepatah “datang tampak muka pergi tampak punggung”.
Dalam kehidupan sehar-hari kita harus membiasakan dengan unggah ungguh yang sangat sederhana yaitu selalu mengucapkan SaToMaTe atau Salam Tolong Maaf dan Terima kasih.
Salam adalah sapaan yang paling awal kita ucapkan kalau kita bertemu dengan seseorang misal :
Assalamu’alakum, Selamat Pagi, siang atau malam, Hallo, Apa kabar dan biasanya disertai dengan anggukan kepala, jabat tangan dan yang tidak kalah penting adalah senyum yang tulus.
Ucapan Maaf harus kita sampaikan jika kita terpaksa harus mengganggu seseorang, misal jika kita menanyakan alamat kepada seseorang dijalan maka akan terasa lebih sopan dan menghargai bila kita bertanya dengan didahului ucapan : Maaf Bapak/Ibu saya terpaksa mengganggu, apakah Bapak/Ibu mengetahui alamat yang saya cari ini, dengan ucapan seperti itu saya yakin orang yang ditanya akan menjawab dengan ramah dan akan menunjukkan alamat yang kita cari jika mereka mengetahuinya.
Tetapi jika kita bertanya dengan tidak sopan maka kita masih beruntung jika mereka mau menjawab dan yang paling sering mereka akan membuang muka atau bahkan menunjukkan arah yang salah dengan sikap yang tidak sopan pula.
Tolong adalah suatu ucapan bahwa kita meminta tolong kepada seseorang bahwa kita menghargainya dan tidak memerintah dengan kasar. Misal : Pada saat rapat suasan tidak tenang maka pemimpin rapat dapat mengatakan Tolong saat ini jangan bicara sendiri-sendiri karena kita sedang membahas hal-hal yang sangat penting. Jika kita kerumah teman dan tidak bertemu yang bersangkutan tetapi hanya ditemui orang tuanya maka akan terasa beradabnya kita jika kita menyampaikan ucapan : Bapak/Ibu bisakah saya minta tolong untuk titip pesan untuk ……, sampaikan kalau saya kesini dan ada perlu dengannya jika nanti dia pulang tolong menghubungi saya, maka orangtua teman kita tentu dengan senang hati akan menyampaikan pesan kita kepada anaknya dan akan berbeda sikapnya jika kita berkata : Bilang sama anakmu aku kesini dan suruh dia bertemu denganku, maka orang tua teman kita dalam hati akan berkata : Dasar anak gemblung tidak tahu sopan santun cari saja sendiri, cepat pergi. Nah lho bukanya ditolong malah disumpahin.
Terima kasih adalah ucapan terakhir yang paling sering kita lupakan bahkan sering tidak mau kita ucapkan, kenapa ? karena kita tidak mau menghargai orang lain, karena ucapan terima kasih harus keluar dari hati nurani kita yang paling dalam sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan maupun orang yang telah menolong atau membantu kita.
Langganan:
Postingan (Atom)



















